MENELADANI DAKWAH WALI SONGO DALAM PENYEBARAN ISLAM DI INDONESIA
Dakwah Islam di Nusantara, tidak terlepas dari keberadaan Walu Songo yang menyebarkan Islam dari awal abad 15 sampai pertengahan abad 16 dengan lokasinya di tiga wilayah penting, yaitu Surabaya, Gresik, dan Lamongan, Jawa Timur. Lalu wilayah Demak, Kudus, dan Muria, Jawa Tengah, serta Cirebon, Jawa Barat.
Wali Songo merupakan tokoh yang dikenal sebagai perintis awal mula dakwah Islam khususnya di pulau Jawa yang menyisakan jejak-jejak sufisme Islam di Nusantara. Meskipun mereka tidak hidup bersamaan, namun antara satu wali dan wali lainnya memiliki keterikatan, bila bukan ikatan darah, mereka memiliki ikatan sebagai kiai-santri, atau guru-murid.
1. Sunan Gresik
Sunan Gresik memiliki nama asli Maulana Malik Ibrahim. Maulana Maghribi adalah nama lain dari Maulana Malik Ibrahim. Ia disebut maghribi yang berarti barat karena menunjukkan asal keturunannya dari Arab. Ia juga disebut Makhdum Ibrahim al-Samarqandi atau biasa dikenal dengan sebutan Sunan Gresik.
Maulana Malik Ibrahim menjadi wali pertama yang menyebarkan Islam di tanah Jawa. Sunan Gresik berlabih ke kota Gresik yang memiliki pelabuhan besar dan merupakan wilayah Kerajaan Majapahit dan beliau memilih desa Leran untuk menetap.
Dalam menjalankan dakwahnya, Sunan Gresik melakukan berbagai cara di antaranya berdagang dengan menjual barang dengan harga yang murah. Selain itu, Sunan Gresik juga memiliki kemampuan sebagai tabib. Kemampuannya tersebut ia gunakan untuk memberikan pengobatan secara gratis kepada masyarakat sekitar. Selain mengajak masyarakat bawah dan berdagang, Sunan Gresik juga mengajarkan cara baru dalam bercocok tanam juga merupakan bagian dari aktivitas dakwahnya. Semua itu dilakukan dengan penuh kesantunan, budi bahasa yang sopan dan tidak menyakiti, termasuk terhadap keyakinan yang dianut mereka. Kemudian Sunan Gresik mendirikan masjid dan pesantren untuk membentuk kader-kader dakwah sekaligus mengembangkan ajaran Islam.
Sunan Gresik wafat pada tahun 1419, ia dimakamkan tidak jauh dari Sunan Giri yaitu di desa Gapura, Gresik, Jawa Timur.
2. Sunan Ampel
Raden Rahmat atau yang dikenal sebagai Sunan Ampel merupakan anak dari Syekh Ibrahim di Samarkand yang lahir di Champa pada tahun 1401 M. Ia termasuk ke dalam golongan bangsawan dari pihak Ibu dan keturunan ulama dari pihak ayahnya.
Karena Sunan Ampel memiliki hubungan yang baik dengan Prabu Brawijaya, ia diberikan sebidang tanah di Ampeldenta, Surabaya, yang kemudian didirikan pesantren Ampeldenta yang menjadi basis pertama dakwah Sunan Ampel. Dalam perjalanan dakwahnya, Sunan Ampel menciptakan keluarga muslim melalui pernikahan. Sunan Ampel menikah dengan Nyi Ageng Manila yang merupakan anak dari Bupati Tuban yaitu Aria Teja. Kemudian hal ini membentuk kekerabatan yang nantinya menjadi cikal bakal dakwah Islam di berbagai daerah.
Pada saat dakwahnya, kondisi masyarakat masih dalam pengaruh kepercayaan animism. Sehingga dalam menjalankan dakwahnya, ia menerapkan prinsip Moh Limo:
1) Moh Main: tidak mau main judi atau taruhan;
2) Moh Ngombe: tidak mau minum-minuman yang memabukkan;
3) Moh Maling: tidak mau mencuri, merampok, atau korupsi;
4) Moh Madat: tidak mau menggunakan obat-obatan terlarang atau sejenisnya;
5) Moh Madon: tidak mau berzina.
Sunan Ampel telah mendirikan Masjid Agung Demak sejak tahun 1479. Diperkirakan dua tahun setelah Masjid Agung berdiri, tepatnya pada tahun 1481, beliau wafat dan kemudian dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel Surabaya, Jawa Timur.
3. Sunan Giri
Sunan Giri lahir di Blambangan sekitar tahun 1442. Ia memiliki beberapa nama lain yaitu Raden Paku, Prabu Satmata, Muhammad Ainul Yakin, dan Joko Samudro. Ayahnya bernama Maulana Ishaq yang masih bersaudara dengan Maulana Malik Ibrahim, sedangkan ibunya merupakan putri dari Raja Blambangan Prabu Menak Sembuyu yang bernama Dewi Sekardadu.
Maulana Ishaq berhasil mengislamkan istrinya tetapi gagal mengislamkan mertuanya. Oleh karena itu, Maulana Ishaq pergi dari Blambangan menuju Pasai. Ketika Dewi Sekardadu melahirkan, mertuanya memerintahkan untuk membuang bayi tersebut ke laut, akan tetapi bayi tersebut dimasukkan dalam peti.
Peti yang berisi bayi tersebut kemudian ditemukan oleh kapal yang dimiliki oleh seorang saudagar yang bernama Nyai Gede Pinatih, kemudian diangkat sebagai anak. Ketika Sunan Giri sudah cukup dewasa, oleh ibu angkatnya dibawa ke pesantren Ampeldenta untuk mempelajari agama kepada Sunan Ampel. Setelah merasa memiliki ilmu, beliau membuka pesantren di daerah Gresik, pesantrennya tersebut tidak hanya digunakan sebagai tempat pendidikan, tetapi juga sebagai pusat pengembangan masyarakat.
Berkat santri Sunan Giri yang memiliki kegigihan luar biasa, Islam dapat menyebar ke berbagai wilayah seperti Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, bahkan sampai Maluku. Media dakwah Sunan Giri bukan hanya melalui ilmu pengetahuan, melainkan melalui kesenian juga. Hasil karyanya adalah permainan anak-anak seperti Jelungan, Cublak-cublak Suweng, Gending Asmaradana, dan Pucung.
Sunan Giri wafat pada tahun 1506 dan kemudian dimakamkan di Dusun Kedhaton, Desa Giri Gajah, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.
4. Sunan Bonang
Sunan Bonang merupakan anak dari Raden Rahmat dan Nyai Ageng Manila yang lahir pada tahun 1465. Ia memiliki nama kecil yaitu Raden Makhdum Ibrahim. Sunan Bonang memperoleh ilmu agamanya langsung dari ayahnya yaitu Sunan Ampel.
Selain dari ayahnya, Sunan Bonang bersama Raden Paku pergi ke Pasai untuk menuntut ilmu kepada Maulana Ishaq. Ketika merasa ilmu agamanya sudah cukup, Sunan Bonang melanjutkan dakwahnya dengan cara membuka pesantren di daerah Tuban, Jawa Timur. Penyebaran Islam yang dilakukan oleh Sunan Bonang dengan cara pendekatan akulturasi budaya. Sunan Bonang memiliki keterampilan dalam bidang seni dan sastra. Tidak heran jika beliau dijuluki sebagai seniman yang mengajarkan agama Islam.
Media dakwah yang digunakan oleh Sunan Bonang antara lain gamelan dan wayang. Adapun isi cerita wayang yang digunakan oleh Sunan Bonang diubah dengan memasukkan nilai-nilai Islam, begitupun dengan lirik lagu atau tembang hasil gubahannya. Selain itu, Sunan Bonang juga ahli pada bidang kesusasteraan, seperti suluk Sunan Bonang, tembang Tombo Ati, suluk Wijil merupakan beberapa karyanya.
Sunan Bonang wafat di Pulau Bawean pada tahun 1525 kemudian dimakamkan di Desa Kuterojo, Tuban, Jawa Timur.
5. Sunan Kalijaga
Sunan Kalijaga merupakan anak dari Tumenggung Wilatikta Bupati Tuban kala itu. Ia lahir pada tahun 1450 dengan memiliki nama kecil Bendara Raden Mas Said. Selain itu, ia juga memiliki nama lain seperti Lokajaya, Syekh Malaya, Susuhunan Tuban, dan Raden Abdurrahman.
Sunan Kalijaga menjadikan Seni dan Budaya sebagai media dakwahnya. Sunan Kalijaga menggunakan pendekatan seni dan budaya sebagai media dakwah sama seperti dengan Wali Songo lainnya. Ia merupakan dalang yang piawai sehingga dijuluki dengan sebutan Ki Dalang Sida Branti. Setiap pertunjukkan wayang yang diadakan, Sunan Kalijaga tidak pernah memungut bayaran sedikit pun, melainkan cukup dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Secara perlahan masyarakat sekitar mulai mengenal Islam dan menjalankan syariatnya.
Selain pertunjukkan wayang, media dakwah lainnya yang dilakukan Sunan Kalijaga adalah menciptakan tembang. Tembang-tembang tersebut adalah Kidung Rumeksa Ing Wengi dan tembang Ilir-ilir.
Sunan Kalijaga wafat pada tahun 1513 di Kadilangu, Demak, Jawa Tengah.
6. Sunan Gunung Jati
Sunan Gunung Jati atau biasa dikenal dengan Syarif Hidayatullah diperkirakan lahir pada tahun 1448. Ia merupakan anak dari Sultan Mahmud bernama Syarif Abdullah. Ibunya yaitu Nyai Rara Santang, putri dari Prabu Siliwangi Kerajaan Pajajaran.
Sunan Gunung Jati memperluas dakwahnya dengan beberapa strategi, pertama melalui pernikahan. Sunan Gunung Jati menikahi putri Ki Gedeng Babadan, namun istrinya wafat sebelum mereka memiliki keturunan, kemudian Sunan Gunung Jati menikah dengan seorang putri Pangeran Cakrabuana sekaligus penguasa Cirebon yang bernama Nyi Ratu Pakungwati.
Adapun strategi kedua, yaitu melalyu persahabatan dengan beberapa tokoh yang memiliki kesaktian, seperti Nyimas Gandasari, Ki Dipati Keling, Pangeran Karangkendal, Pangeran Sukalila, dan juga Pangeran Panjunan. Berkat persahabatan ini, Islam di Cirebon semakin kuat dan berhasil mengalahkan Raja Galuh yang saat itu menyerang Cirebon.
Status Sunan Gunung Jati sebagai ulama sekaligus penguasa, semakin melancarkan dakwah Islamnya sampai Sunda Kelapa, Banten, dan daerah Jawa Barat lainnya. Kesuksesan Sunan Gunung Jati dalam menyebarkan ajaran Islam tidak hanya terjadi di Cirebon dan Banten saja, tetapi juga di tanah Sunda dengan menjadikan keraton sebagai pusat kesenian dan kebudayaan Islam.
Pada tahun 1568, Sunan Gunung Jati wafat dan makamnya berada di Gunung Sembung, Desa Astana, Cirebon, Jawa Barat.
7. Sunan Drajat
Sunan Drajat merupakan putra bungsu dari pasangan Sunan Ampel dan Nyai Ageng Gede Manila yang lahir di Ampeldenta, Surabaya tahun 1470 dengan gelar Raden Syarifudin. Pada masa kecilnya Sunan Drajar dikenal sebagai Raden Qasim atau Malik Munih.
Sunan Drajat mengembangkan dakwah melalui pendidikan akhlak, ia memiliki rasa kepedulian yang sangat besar terhadap fakir miskin. Selain itu, ia juga mengajarkan kepada masyarakat untuk memperhatikan nasib fakir miskin, mengedepankan kemakmuran umat, serta memiliki sifat empati, kedermawanan, dan sikap solidaritas sosial yang tinggi.
Dalam buku Atlas Wali Songo disebutkan bahwa terdapat tujuh dasar ajaran (pepali pitu) yang digunakan Sunan Drajat dalam menyebarkan ajaran Islam, ajaran tersebut meliputi:
1) Menciptakan resep tyasing sesame, seperti membuat senang hati orang yang ada di sekitar.
2) Jorning suka kudu eling lan waspada, artinya meskipun dalam keadaan gembira, hendaknya selalu ingat Tuhan dan selalu waspada.
3) Laksitaning subrata tan nyipta marang pringga bayaning lampah, memiliki arti bahwa saat mencapai cita-cita luhur, jangan menghiraukan halangan dan rintangan.
4) Meper hardening pancadriya, artinya senantiasa berjuang menekan gejolak nafsu-nafsu indrawi.
5) Heneng-hening-henung, maksudnya ialah dalam diam akan dicapai keheningan dan di dalam hening akan mencapai jalan kebebasan mulia.
6) Mulya guna panca waktu, kalimat ini memiliki makna bahwa pencapaian kemuliaan lahir batin dengan menjalankan shalat lima waktu.
7) Menehono teken marang wong kang wuta (berikan tongkat kepada orang yang tuna netra). Menehono mangan marang wong kang luwe (berikan makan kepada orang yang lapar). Menehono busana marang wong kang wudo (berikan pakaian kepada orang yang tak memiliki pakaian). Menehono pangiyup marang wong kang kaudanan (berikan tempat berteduh kepada orang yang kehujanan).
Sunan Drajat meninggal dunia pada tahun 1522 dan dimakamkan di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.
8. Sunan Kudus
Salah satu tokoh wali songo yang dikenal tegas dalam menegakkan syariat adalah Ja’far Shadiq atau Sunan Kudus. Ia merupakan anak dari Sunan Ngudung dan ibunya bibi Sunan Bonang, yang lahir pada tahun 1500. Dalam dakwahnya Sunan Kudus mencoba untuk mendekati masyarakat dengan memahami kebutuhan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat.
Oleh karena itu, ia mengajarkan kepada masyarakat mengenai alat-alat pertukangan, kerajinan emas, membuat keris pusaka, pandai besi, dan mengajarkan tentang hukum-hukum agama secara jelas dan tegas.
Salah satu strategi dakwah Sunan Kudus adalah dengan akulturasi budaya dan merangkul masyarakat yang masih beragama Animisme, Hindu, dan Buddha dengan penuh kasih sayang, hingga perlahan mereka bersedia masuk Islam.
Masjid Kudus merupakan contoh akukturasi budaya yang dilakukan oleh Sunan Kudus dengan kompromi dari arsitektur Jawa, Islam, Hindu, Buddha. Masjid ini memiliki bentuk yang unik dengan menggabungkan unsur Islam dan unsur lokal. Selain itu, Sunan Kudus melarang untuk menyembelih dan memakan sapi, hewan yang dihormati oleh masyarakat Hindu.
Sebelum wafat, Sunan Kudus pernah menjabat sebagai senopati dan menggantikan posisi sang ayah menjadi panglima perang Kesultanan Demak, pada masanya Kerajaan Majapahit runtuh. Selain itu, Sunan Kudus juga menjabat sebagai imam besar Masjid Demak dan menjadi qadhi di Kesultanan Demak. Namun, pada saat Kesultanan Demak mengalami masalah politik, Sunan Kudus mengundurkan diri dari jabatannya dan tinggal di Tahung yang kemudian berubah nama menjadi Kudus.
Sekitar tahun 1550, Sunan Kudus wafat, dan dimakamkan di komplek Masjid Agung Sunan Kudus, kota Kudus, Jawa Tengah.
9. Sunan Muria
Semasa kecilnya Sunan Muria memiliki nama Raden Prawoto atau Raden Umar Said, ia merupakan putra dari Sunan Kalijaga dan ibunya bernama Dewi Saroh putri dari Maulana Ishaq. Diberikan nama Sunan Muria karena berkaitan dengan nama gunung tempat ia tinggal.
Sunan Muria adalah tokoh Wali Songo termuda, sama sepertu ayahnya Sunan Muria menjalankan dakwah menggunakan jalur budaya. Ia piawai dalam menciptakan tembang cilik sejenis sinom dan kinanti yang didalamnya berisi nasehat dan ajaran tauhid. Selain itu, ia juga pintar memainkan wayang dengan membawakan lakon-lakon carangan karya Sunan Kalijaga.
Saat melakukan dakwah Islam, Sunan Muria sangat mengedepankan kelembutan dengan media kesenian berupa gamelan dan wayang. Tradisi keagamaan lama yang dianut masyarakat tidak dihilangkan, melainkan diberi warna Islam dan dikembangkan menjadi tradisi keagamaan baru yang khas Islam.
Sunan Muria diperkirakan wafat tahun 1551 dan dimakamkan di Bukit Muria Desa Colo Kecamatan Dawe, dekat Kota Kudus, Jawa Tengah.
(SEJARAH SINGKAT WALISONGO)
Soal Latihan (Bagi yang ingin mengerjakan, silahkan)










Boleh komen sedikit kak...
BalasHapusCoba tambahkan pendahuluan yang menjelaskan konteks sejarah penyebaran Islam di Nusantara sebelum kedatangan Wali Songo kak, sama kondisi sosial, politik, dan keagamaan saat itu. Kemudian buat sub-bagian yang menjelaskan siapa saja anggota Wali Songo secara singkat sebelum masuk ke masing-masing tokoh dan jelaskan lebih lanjut juga kak tentang peran sufisme dalam dakwah Wali Songo dan bagaimana ajaran sufi mempengaruhi metode dakwah mereka.
Point penting: Pastikan penggunaan istilah dan penulisan nama konsisten di seluruh teks. Misalnya, beberapa nama ditulis berbeda-beda di berbagai bagian. Perkuat bagian kesimpulan dengan merangkum kontribusi utama Wali Songo dalam penyebaran Islam di Indonesia dan relevansi metode mereka untuk dakwah kontemporer. Grazie!